Minggu, 09 Maret 2014

Resume Psikolinguistik 1



Nama   : Anis Febriana R                                                                    RESUME
NIM    : 125110700111031
Kelas   : Psikolinguistik B
BAHASA DAN BERBAHASA
            Bahasa merupakan sejumlah subsistem yang terdiri dari lambang atau simbol dan bersifat arbitrer serta digunakan oleh masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasi diri. Karakteristik bahasa dibedakan menjadi lima macam, antara lain: bersifat arbitrer (manasuka), bersifat produktif (penciptaan satuan ujaran-ujaran), bersifat dinamis (mengalami perubahan), bersifat beragam (digunakan oleh penutur secara heterogen), dan bersifat manusiawi (bahasa hanya dimiliki oleh manusia). Terdapat delapan teori yang membahas tentang asal usul bahasa, yaitu teori F.B. Condillac, teori tekanan sosial, teori onomatope, teori interjeksi, teori isyarat, teori kontrol sosial, teori Hockett-Ascher, dan teori Brook. Dari beberapa teori tentang asal usul bahasa, dapat disimpulkan bahwa bahasa berasal dari ujaran-ujaran dan teriakan-teriakan yang dilakukan oleh manusia atau berupa isyarat-isyarat tertentu yang dapat dipahami antara manusia yang satu dengan manusia yang lain.
            Selain hakikat bahasa, karakteristik bahasa, dan teori tentang asal usul bahasa, terdapat fungsi bahasa berdasarkan kebutuhan seseorang. Menurut Chaer (2009:33), fungsi bahasa dibedakan menjadi lima macam, yang pertama bahasa menduduki fungsi ekspresi, yaitu fungsi untuk mengungkapkan perasaan-perasaan seseorang. Misalnya ketika seseorang marah kepada temannya, maka bahasa yang diucapkan menunjukkan kemarahan. Fungsi bahasa yang kedua yaitu fungsi informasi, yaitu bahasa sebagai penyampai pesan kepada orang lain. Fungsi eksplorasi menjadi fungsi nomor tiga menurut Chaer, dijelaskan bahwa fungsi eksplorasi yaitu penggunaan bahasa untuk menjelaskan suatu hal, keadaan, atau perkara. Fungsi yang keempat yaitu fungsi persuasi, yaitu bahasa dapat mempengaruhi atau mengajak orang lain untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu. Fungsi bahasa yang terakhir yaitu fungsi entertainment, yaitu penggunaan bahasa dengan maksud menghibur, menyenangkan, atau memuaskan perasaan.
            Struktur bahasa dibedakan menjadi dua macam, yaitu struktur dalam (deep structure) dan struktur luar (surface structure). Tata bahasa menyangkut tiga komponen yang berperan penting, yaitu komponen fonologi (menelaah sistem bunyi), sintaksis (menelaah hubungan kata-kata), dan semantik (menelaah arti lingual bahasa). Pada umumnya, bahasa dapat diungkapkan melalui proses berbahasa, meliputi proses enkode (produktif), dekode, dan transmisi. Dalam proses enkode, terdapat tiga tahapan yang harus dilalui, yaitu enkode semantik, gramatikal dan fonologi. Proses dekode juga terdapat tiga tahapan yang harus dilalui, yaitu dekode fonologi, dekode gramatikal, dan dekode semantik. Proses berbahasa yang terakhir yaitu proses transmisi. Proses transmisi merupakan proses yang terjadi antara proses enkode dan dekode.

Penelitian Tradisi Lisan Jawa Timur "Tradisi Larung Sesaji"



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Cerita rakyat merupakan salah satu bentuk ekspresi kebudayaan daerah yang jumlahnya sangat banyak di seluruh Indonesia. Bahasa-bahasa daerah yang menjadi media pengucapan tradisi lisan itu juga merupakan bagian dari kebudayaan tradisional. Hal ini sejalan dengan pendapat Rosidi dalam Kurniawan (2012) bahwa bahasa yang paling tepat dapat mengekspresikan isi kebudayaan daerah adalah bahasa daerah yang bersangkutan.
Eksistensi cerita rakyat merupakan suatu fenomena budaya yang bersifat universal dalam kehidupan masyarakat. Sebagai produk budaya masyarakat, sastra lisan baik jenis prosa maupun puisi dapat dijumpai hampir di seluruh tempat. Sastra lisan pada umumnya tercipta sebagai tanggapan dan hasil pemikiran sistem kemasyarakatan (Razali dan Jonson dalam Irawan, 2011). Cerita rakyat sebagai bagian dari folklor bersifat komunal (dengan pengertian milik bersama masyarakat), lokal (muncul dan berkembang di suatu tempat tertentu), serta informal (diturunkan tidak melalui pendidikan formal). Sifatnya yang lisan, komunal, dan informal mengakibatkan keaslian sastra lisan sukar untuk dapat dipertahankan dalam jangka waktu lama. Perubahan-perubahan tidak dapat dihindari sejalan dengan perubahan waktu dan penyebarannya pun semakin meluas.
Sastra lisan, termasuk cerita rakyat merupakan warisan budaya nasional dan masih mempunyai nilai-nilai yang patut dikembangkan dan dimanfaatkan untuk kehidupan masa kini dan masa yang akan datang, antara lain dalam hubungan dengan pembinaan apresiasi sastra. Sastra lisan juga telah lama berperan sebagai wahana pemahaman gagasan dan pewarisan tata nilai yang tumbuh dalam masyarakat. Bahkan, sastra lisan telah berabad-abad berperan sebagai dasar komunikasi antara pencipta dan masyarakat, dalam arti ciptaan yang berdasarkan lisan akan lebih mudah digauli karena ada unsur yang dikenal dalam masyarakat (Rusyana dalam Kurniawan, 2012). Sastra lisan lisan memiliki peranan penting, tidak saja ditinjau dari segi pembinaan dan pengembangan sastra daerah, tetapi juga penting dalam pembinaan dan pengembangan sastra Indonesia (Hakim dalam Kurniawan, 2012).
Berdasarkan pendapat di atas, tanggung jawab terhadap warisan leluhur bangsa tidak hanya bergantung kepada satu individu saja tetapi setiap individu mempunyai tanggung jawab individu dan sosial terhadap warisan leluhur untuk dilestarikan. Pelestarian warisan leluhur bukan sekedar memuseumkan melainkan mengambil nilai-nilai positif yang terkandung dalam warisan budaya tersebut. Upaya tersebut juga dapat dimaknai sebagai transformasi atau mengubah bentuk budaya tersebut tanpa menghilangkan wujud budaya asli. Salah satu wujud keanekaragaman kebudayaan terintegrasi pada tradisi lisan. Keberadaan tradisi lisan sebagai bagian dari kebudayaan manusia merupakan sesuatu yang dapat merentang ke arah kehidupan yang multidimensi yang memasuki corak kehidupan yang paling dalam. Oleh karena itu, tradisi lisan mempunyai hubungan yang sangat erat dengan kebudayaan.
Perubahan pola pikir masyarakat dapat pula menyebabkan ketidakpedulian terhadap sastra lisan. Sastra lisan hanya dipandang sebagai kisah-kisah yang tidak masuk akal dan berada di luar jangkauan akal sehat. Hal ini tentu menjadi ancaman terhadap eksistensi sastra lisan, jika masyarakat melupakannya dari kehidupan mereka (Razali dan Jonson dalam Kurniawan, 2012). Cerita rakyat yang terdapat di Kabupaten Malang, hingga saat ini masih bisa dijumpai meskipun hanya setahun sakali pada saat bulan Maulid. Mekipun demikian beberapa cerita hingga saat ini masih dipertahankan keberadaannya, karena dianggap membawa berkah. Di Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang misalnya, setiap bulan Maulud terdapat sebuah acara upacara Larung Sesaji di pantai Ngliyep yang selalu diperingati dan diadakan setiap tahunnya. Upacara tersebut merupakan ungkapan rasa syukur dan berdoa kepada Tuhan dan penguasa laut pantai selatan karena dipercaya dapat menghindarkan masyarakat Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang dari marabahaya.
Berdasarkan uraian-uraian di atas, penulis tertarik untuk mendeskripsikan dan mengkaji cerita rakyat yang ada di Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang dengan mengambil judul Tradisi Larung Sesaji di Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang (Kajian Fungsi R. Bascom dan Sosiologis-Historis). Penelitian tradisi larung sesaji yang terjadi di Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang ini menggunakan pisau bedah teori sosiologis-historis yang bertujuan untuk memahami latar belakang munculnya tradisi Larung Sesaji dalam lingkungan kehidupan masyarakat Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang serta teori fungsi William R. Bascom yang bertujuan untuk mengetahui fungsi tradisi Larung Sesaji dalam kehidupan masyarakat Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang.

B.     Fokus Penelitian
Berdasarkan latar belakang di atas, fokus penelitian Tradisi Larung Sesaji di Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang adalah sebagai berikut:
1.        Latar belakang munculnya Tradisi Larung Sesaji di Pantai Ngliyep Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang.
2.        Mengkaji Tradisi Larung Sesaji di Pantai Ngliyep Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang dengan menggunakan teori sosiologis-historis.
3.        Mengkaji Tradisi Larung Sesaji di Pantai Ngliyep Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang dengan menggunakan teori fungsi William R. Bascom.

C.    Tujuan Penelitian
1.    Mendeskripsikan latar belakang munculnya Tradisi Larung Sesaji di Pantai Ngliyep Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang
2.    Mendeskripsikan kajian Tradisi Larung Sesaji di Pantai Ngliyep Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang dengan menggunakan teori sosiologis-historis
3.    Mendeskripsikan kajian Tradisi Larung Sesaji di Pantai Ngliyep Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang dengan menggunakan teori fungsi William R. Bascom.

D.    Manfaat Penelitian
Secara teoretis, hasil penelitian ini menghasilkan konsep tentang adanya fungsi dan teori sosiologis-historis dalam Larung Sesajidi Pantai Ngliyep Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang. Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan menghasilkan model penelitian yang dapat digunakan sebagai acuan oleh para peneliti selanjutnya. Selain itu, berdasarkan objek penelitian bermanfaat untuk memperdalam penjelasan tentang cerita Larung Sesaji di Pantai Ngliyep Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang, khususnya dari segi fungsi dan sosiologis-historis.
Manfaat praktis bagi pendidik dan calon pendidik diharapkan hasil penelitian ini bermanfaat untuk meningkatkan pengetahuan dan apresiasi terhadap tradisi lisan dalam kehidupan masyarakat. Dengan demikian, kualitas pembelajaran tradisi lisan dapat lebih meningkat.  Manfaat praktis bagi mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, hasil penelitian ini sebagai bahan pustaka dalam kegiatan analisis atau kajian suatu tradisi, terutama tradisi lisan.











BAB II
KAJIAN PUSTAKA

Pada bagian ini dikemukakan hal-hal yang berkaitan dengan kajian latar belakang munculnya tradisiLarung Sesajidi Pantai Ngliyep Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang yaitu (1) penelitian terdahulu, serta (2) teori dan konsep yang digunakan untuk menganalisis latar belakang munculnya tradisi Larung Sesaji di Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang berdasarkan analisis sosiologis-historis dan teori fungsi William R. Bascom.

A.    Penelitian Terdahulu yang Relevan
Penelitian sebelumnya pernah dilakukan oleh Pepi Hidayat (2013) meneliti tentang “Larung Sesaji” untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan Larung Sesaji di Teluk Penyu Kabupaten Cilacap, serta makna esensialnya dengan penjabaran sebagai berikut: Proses Larung Sesaji berlangsung selama dua hari, dimulai dari hari Kamis, 6 Desember 2012 dengan kegiatan terdiri dari: (1) Persiapan: pembuatan dan persiapan panitia, Ziarah dan pengambilan air suci di Karang Bandung, Sedekah Laut Paguyuban Sekartaji, dan Tirakatan. (2) Pelaksanaan pada hari Jumat, 7 Desember 2012 dengan kegiatan terdiri dari: upacara seserahan jolen, pengarakan jolen, pelarungan jolen, ruwatan, pagelaran kesenian kuda kepang dan pucangan, selametan atau kendurenan. (3) Penutupan: laporan resepsi dari panitia dan pagelaran wayang kulit. Sedangkan makna esensial dari Larung Sesaji itu sendiri diantaranya pembersihan jiwa, memperingati tahun baru Islam, menjalankan amanat leluhur, mendapatkan keberkahan dan keselamatan, sebagai bentuk kepatuhan kepada leluhur dan Tuhan Yang Maha Esa, serta menjaga keharmonisan nelayan dengan alam.
Selanjutnya, penelitian yang berhubungan dengan teori fungsi, La Niampe (2008), dipresentasikan seminar internasional lisan VI Wakatobi dengan judul “Tuturan Tentang Katoba dalam Tradisi Lisan Muna: Deskripsi Nilai dan Fungsi”. Yang didalamnya berisi mengenai Tradisi Lisan Ritual Katoba (TLRK) sebagai produk budaya masyarakat etnik Muna mengungkapkan beberapa hal penting yang berhubungan dengan bentuk TLRK yang berbentuk teks naratif, fungsi TLRK, dan makna dari TLRK itu sendiri. Selain itu juga terdapat 2 fungsi yakni fungsi didaktis dan fungsi religius yang sangat bermanfaat bagi masyarakat Muna.
Ritual Petik Laut pada masyarakat nelayan yang ada di daerah Donomulyo, Malang juga pernah diteliti oleh mahasiswa Fakultas Ilmu Kebudayaan, Universitas Indonesia (Hardi, 2012). Secara garis besar berisi tentang pemaparan Tradisi Petik Laut yang selalu di laksanakan oleh masyarakat sekitar Kecamatan Donomulyo setiap tanggal 27 September dengan serangkaian ritual mulai dari tasyakuran sebagai simbol pembukaan hingga diadakannya pagelaran wayang kulit yang diselenggarakan semalam suntuk sebagai simbol penutupan Tradisi Ritual Petik Laut.

B.     Teori yang Digunakan
1.    Konsep Dasar Legenda
Sama halnya dengan mitos, legenda dan mitos sama-sama mempunyai kesamaan. Keduanya sama-sama menampilkan cerita yang menarik dengan tokoh-tokoh hebat yang mempunyai kemampuan diluar batas manusia pada umumnya. Hanya saja jika mitos dikaitkan dengan dewa-dewa atau kekuatan supranatural, sebaliknya legenda mengaitkan dengan tokoh, peristiwa dan tempat yang nyata yang mempunyai kebenaran sehingga bersifat historis. Legenda dikelompokkan menjadi tiga macam, diantaranya legenda tokoh, legenda peristiwa dan legenda  tempat peninggalan. Dalam penelitian ini sangat berkaitan antara hakikat legenda itu sendiri dengan peristiwa yang melatarbelakangi terjadinya tradisi Larung Sesaji di Pantai Ngliyep Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang. Jika dilihat dari pengertiannya, maka Larung Sesaji termasuk kedalam jenis legenda peristiwa, dimana menceritakan tentang peristiwa-peristiwa besar yang terjadi. Peristiwa-peristiwa yang dimaksudkan disini adalah memberikan seserahan berupa makanan dan sesajian yang kemudian di hanyutkan di salah satu pantai yakni pantai Ngliyep yang terletak di Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang. Tradisi itu dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada penguasa Pantai Selatan.
2.     Teori  Sosiologis Historis
 Berasal dari dua kata “sosiologis” dan “Historis”. Sosiologis lebih mengacu pada masyarakat sekitar yang erat kaitannya dengan “Larung Sesaji”. Secara historis, teori tersebut dinampakkan dalam sejarah atau latar belakang munculnya Larung Sesaji. Pada dasarnya, teori sosiologis-historis ini mempunyai cakupan yang cukup luas. Menurut Webster dalam Kurniawan (2012) terdapat lima dimensi yang perlu untuk diungkap, antara lain :
1.      Posisi negara miskin dalam hubungan sosial ekonominya dengan Negara-negara lain.
2.      Ciri khas atau karakter dari suatu masyarakat yang mempengaruhi pembangunan.
3.      Hubungan antara proses budaya dan ekonomi yang mempengaruhi pembangunan.
4.      Aspek sejarah dalam proses pembangunan atau perubahan sosial yang terjadi.
5.      Penerapan berbagai teori perubahan sosial yang mempengaruhi kebijakan pembangunan nasional pada Negara-negara berkembang.
Dengan adanya kelima dimensi yang terdapat pada teori sosiologis-historis nampak jelas bahwa kebudayaan masyarakat tidak akan pernah lepas dari sejauh mana sejarah atau tradisi di daerah tersebut.

3. Teori Fungsi Ala William R. Bascom
Seiring dengan perkembangan teori yang muncul dalam tradisi lisan di Indonesia, mengakibatkan Indonesia kaya akan analisis dalam membedah dongeng, mitos, dan lain-lain. Dengan adanya teori-teori yang ada dalam tradisi lisan, maka mempermudah menganalisis serta mengetahui seluk beluk tradisi lisan tersebut. Teori fungsi, merupakan salah satu teori yang dicetuskan oleh tokoh-tokoh dalam bidang sastra lisan. Teori ini juga menjadi landasan dalam menganalisis unsur-unsur tradisi lisan dan sastra lisan.  Dengan adanya teori ini, diharapkan pembaca dapat lebih menggunakan teori yang tepat untuk analisis struktur dalam cerita. Pada dasarnya, teori fungsi juga mencakup aspek-aspek yang berhubungan dengan adanya fungsi yang terkandung dalam sebuah cerita atau tradisi tertentu.
Menurut William R. Bascom (dalam Sudikan, 2002: 109), sastra lisan mempunyai empat fungsi, yaitu (a) sebagai sebuah bentuk hiburan (as a form of amusement), (b) sebagai alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga-lembaga kebudayaan (it plays in validating culture, in justifying its rituals and institution to those who perform and observe them), (c) sebagai alat pendidikan anak-anak (it plays in education, as pedagogical device), dan (d) sebagai alat pemaksa dan pengawas agar norma-norma masyarakat akan selalu dipatuhi kolektifnya (maintaining conformity to the accepted patterns of behavior, as means of applying social pressure and exercising social control).




BAB III
METODE PENELITIAN

Pada bagian ini akan diuraikan (1) pendekatan penelitian, (2) lokasi dan subjek penelitian, (3) informan, (4) teknik pengumpulan data, (5) teknik terjemahan, (6) teknik analisis data, dan (7) teknik pemeriksaan keabsahan data.

A. Pendekatan Penelitian
            Pendekatan merupakan ruang lingkup penelitian, berhubungan dengan aspek-aspek yang akan diungkap dalam penelitian. Pendekatan akan membingkai objek apa saja yang mungkin diungkap dalam penelitian. Itulah sebabnya pendekatan juga sering dinamakan motode penelitian. Metode penelitian adalah cara yang dipilih peneliti dengan mempertimbangkan bentuk, isi, dan sifat sastra sebagai subjek kajian. Metode semestinya mengangkat cara yang operasional dalam penelitian. Metode ini membutuhkan langkah penelitian yang pantas diikuti. Adapun teknis berhubungan dengan proses pengambilan data dan analisis penelitian (Endraswara, 2003: 8).
Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku. Dalam penelitian ini, digunakan pendekatan kualitatif untuk memeroleh data tertulis maupun lisan dari orang dan perilaku yang diamati.  Hal ini sejalan dengan pendapat Strauss dan Corbin dalam Kurniawan (2012) bahwa penelitian kualitatif adalah jenis penelitian yang temuan-temuannya tidak diperoleh melalui prosedur statistik dan bentuk hitungan lainnya. Contohnya dapat berupa penelitian tentang kehidupan, riwayat, dan perilaku seseorang, di samping juga tentang peranan organisasi, pergerakan sosial, atau hubungan timbal balik.
 Ciri penelitian kualitatif adalah (1) latar alamiah, (2) manusia sebagai alat (instrumen), (3) metode berupa: pengamatan, wawancara, dan penelaahan dokumen, (4) analisis data secara induktif, (5) teori dari dasar (grounded theory), (6) deskriptif (berupa kata-kata dan gambar), (7) lebih mementingkan proses daripada hasil, (8) batasan penelitian ditentukan oleh fokus, (9) keabsahan data dilakukan dengan: triangulasi, peer debriefing, dan member check, (10) desain yang bersifat sementara (menyusun desain secara terus-menerus disesuaikan dengan kenyataan di lapangan).  Penelitian mengenai tradisi Larung Sesaji di Pantai Ngliyep Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang termasuk penelitian kualitatif karena penelitian ini bermaksud untuk memahami tentang apa yang melatar belakangi munculnya tradisi Larung Sesaji. Dalam hal ini peneliti melakukan wawancara dengan salah satu kerabat labuh yaitu Mbah Kasbun yang merupakan adik kandung dari Mbah Pangat (juru kunci Gunung Kombang Pantai Ngliyep dan ketua dalam ritual Larung Sesaji) untuk memperoleh data secara akurat.

B. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang. Alasan dipilihnya Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang sebagai lokasi penelitian karena masyarakat masih mengenal dengan baik tradisi Larung Sesaji di Pantai Ngliyep.

C. Informan
Informan adalah pembicara asli (native speaker), yang diminta oleh peneliti untuk berbicara dalam bahasanya atau dialeknya sendiri. Informan merupakan sumber informasi. Penentuan informan dalam penelitian kualitatif umumnya menggunakan teknik snowball. Menurut Nasution dalam Kurniawan (2012), teknik snowball digunakan dengan cara, informan pertama diminta untuk menunjuk informan kedua yang dapat memberi informasi, kemudian informan kedua diminta menunjuk informan ketiga, dan seterusnya. Hal ini dilakukan secara serial dan berurutan. Dalam penelitian ini peneliti menemui Bapak Sujarni (salah satu kerabat Larung Sesaji dari Desa Tempursari) untuk melakukan wawancara terkait tradisi Larung Sesaji di Pantai Ngliyep, namun karena sesuatu hal beliau tidak dapat memberikan informasi mengenai tradisi Larung Sesaji dan menyuruh peneliti untuk menemui Mbah Gemi (sepupu Mbah Pangat). Setelah menemui Mbah Gemi di rumahnya yang berada di Desa Mentaraman RT 13 RW 01, beliau takut salah untuk memberikan informasi terkait Larung Sesaji karena ini tidak sembarang orang dapat memberikan informasi. Kemudian Mbah Gemi mengantar peneliti menuju Dusun E-Jaran yang ada di Desa Kedungsalam untuk menemui Mbah Mesenan (tukang sapu yang telah mengikuti Larung Sesaji sejak ketuanya Mbah Atun). Karena kebetulan di Gunung Kombang Pantai Ngliyep sedang ada tamu, jadi Mbah Mesenan berada di sana. Kemudian Mbah Sriatun (istri Mbah Mesenan) mengantarkan peneliti dan Mbah Gemi untuk menemui Mbah Kasbun (adik kandung almarhum Mbah Pangat, juru kunci Gunung Kombang Pantai Ngliyep dan ketua dalam ritual Larung Sesaji) yang saat itu berada di Lumbung (tempat pemujaan yang menghubungkan antara dunia manusia dengan dunia penguasa pantai selatan). Dengan ditemani Mbah Gemi, peneliti melakukan wawancara dengan Mbah Kasbun terkait dengan latar belakang munculnya Larung Sesaji di Pantai Ngliyep Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang.
Ada empat hal yang perlu diperhatikan dalam penentuan informan, yaitu (1) informan dapat diperoleh dari petunjuk kepala desa atau orang lain (tetapi kadang-kadang tidak dapat dipercaya), (2) peneliti seharusnya mencari informan sendiri, (3) hati-hati dengan informan yang menonjolkan diri dengan motif ingin mendapatkan uang, (4) daerah yang pernah diteliti orang kadang-kadang merupakan daerah yang tidak murni lagi Hutomo dalam Irawan (2011).
Menurut Spradley dalam Sudikan (2001: 167) ada lima persyaratan minimal informan yang baik untuk dipilih yaitu: (1) enkulturasi penuh, (2) keterlibatan langsung, (3) suasana budaya yang tidak dikenal, (4) waktu yang cukup, dan (5) non-analitis.
Pada penelitian ini, informan yang dipilih berdasarkan beberapa pertimbangan, yaitu (1) penduduk asli setempat, (2) dewasa, (3) memiliki pengetahuan yang baik tentang tradisi Larung Sesaji, (4) sehat jasmani dan rohani, (5) tidak harus tokoh masyarakat, (6) memiliki informasi lain yang diperlukan untuk menjawab fokus penelitian.
Informan dalam penelitian ini adalah Mbah Kasbun, salah satu kerabat Larung Sesaji yang merupakan adik kandung dari almarhum Mbah Pangat (juru kunci Gunung Kombang Pantai Ngliyep dan ketua dalam ritual Larung Sesaji).

D. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian sastra lisan dapat menggunakan (1) teknik perekaman, baik audio maupun audiovisual, (2) pemotretan, (3) pencatatan, (4) wawancara yang mendalam, dan (5) studi kepustakaan dan analisis dokumentasi (Sudikan, 2001: 173).
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik pengumpulan data yang dinyatakan oleh Sudikan, yakni (1) mengadakan pengamatan di lokasi penelitian, yaitu di Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang, (2) mengadakan perekaman data yang didapat dari informan, (3) mengadakan pencatatan yang berkaitan dengan tradisi Larung Sesaji, dan (4) mengadakan wawancara dengan informan.  

1. Observasi (Pengamatan)
Teknik observasi digunakan untuk mendapatkan data tentang tradisi Larung Sesaji di Pantai Ngliyep Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang. Melalui teknik ini peneliti dapat melihat sendiri pemahaman yang tidak terucapkan (tacid understanding) mengenai tradisi Larung Sesaji dalam kehidupan bermasyarakat.

2. Rekaman
            Rekaman digunakan dalam penelitian ini untuk mendapatkan data yang berkaitan dengan tradisi Larung Sesaji itu sendiri. Dalam hal ini peneliti meminta informan untuk melisankan tradisi Larung Sesaji di Pantai Ngliyep Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang. Perekaman menggunakan perekam suara di telepon genggam (handphone).

3. Teknik Pencatatan
            Setelah data mengenai tradisi Larung Sesaji diperoleh, langkah selanjutnya adalah memindahkan data tersebut ke dalam bentuk tulisan. Dalam hal ini penulis menggunakan teknik yang dikemukakan oleh Hutomo dalam Irawan (2011), yakni (1) melakukan transkripsi kasar dengan cara memindahkan semua suara dalam rekaman ke dalam bentuk tulis tanpa mengindahkan tanda baca; pada tahap ini suara rekaman dalam bahasa Jawa dipindahkan ke dalam bentuk tulis; (2) transkripsi kasar tersebut kemudian disempurnakan; (3) hasil transkripsi yang telah disempurnakan kemudian diberi tanda baca dan catatan penting; dan (4) setelah itu, transkripsi tersebut diketik ulang.

4. Wawancara
            Menurut Supratno dalam Kurniawan (2012) bahwa teknik wawancara secara garis besar ada dua, yaitu wawancara tak berstruktur dan wawancara berstruktur. Wawancara tak berstruktur adalah wawancara yang bersifat bebas dan tidak direncanakan, sedangkan wawancara berstruktur adalah wawancara yang dipersiapkan oleh peneliti dan mengarah pada fokus penelitian.
Penelitian ini menerapkan teknik wawancara berstruktur. Wawancara dilakukan secara mendalam (deepth interview). Dengan cara ini, data wacana (lisan) tradisi Larung Sesaji di Pantai Ngliyep Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang dapat diperoleh secara wajar. Wawancara berstruktur direkam dengan video recorder di telepon genggam (handphone). Hal tersebut dilakukan untuk memudahkan pengumpulan data.

E. Teknik Transkripsi
            Dalam pengalihan wacana lisan ke tulis, akan berpedoman pada pedoman ejaan. Kridalaksana dalam Kurniawan (2012) menjelaskan bahwa ejaan adalah penggambaran bunyi bahasa dengan kaidah tulis-menulis yang distandardisasikan yang lazim mempunyai aspek yakni aspek fonologis yang menyangkut penggambaran fonem dengan huruf dan abjad, aspek fonologis menyangkut penggambaran satuan-satuan morfemis, aspek sintaksis menyangkut penanda ujaran berupa tanda baca. Adapun sistem ejaan yang dipergunakan di dalam transkripsi ini disesuaikan dengan pedoman ejaan bahasa Jawa.




F. Teknik Terjemahan
Tradisi Larung Sesaji umumnya dituturkan dalam bahasa Jawa, karena itu peneliti dituntut melakukan penerjemahan ke dalam Bahasa Indonesia. Kemampuan menerjemahkan membutuhkan bakat dan pengetahuan tentang teori menerjemahkan tanpa kehilangan makna dan nilai yang terkandung dalam teks asli. Hutomo dalam Irawan (2011) menyatakan ada tiga hal yang terdapat dalam penerjemahan, yaitu terjemahan bebas (free translation), terjemahan literal (literal translation), dan terjemahan kata demi kata (word-for-word translation).
Untuk menerjemahkan tradisi Larung Sesaji dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik terjemahan literal agar teks dapat dibaca dan dimengerti tanpa mengubah konteks aslinya. Dalam penelitian ini teks asli ditampilkan terlebih dahulu, baru kemudian diikuti dengan teks hasil terjemahan, ada dua model sebagai berikut.
1.        Teks asli ditampilkan di sebelah kiri, kemudian teks terjemahan ditampilkan di sebelah kanan.
2.        Teks asli ditampilkan di atas, kemudian teks terjemahan di bawahnya.
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan model penerjemahan nomor dua, yaitu teks asli dalam Bahasa Jawa ditampilkan di atas, kemudian teks terjemahan berupa Bahasa Indonesia berada di bawah teks asli. Peneliti memilih model ini karena model penerjemahan tersebut lebih mudah dipahami dan lebih sederhana (simple).

G. Teknik Analisis Data
Adapun prosedur analisis data dalam penelitian ini adalah (1) menata data mengenai tradisi Larung Sesaji di Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang. Penataan ini didasarkan atas pembacaan terhadap tradisi Larung Sesaji yang sudah dialihkan ke wacana tulis. Selanjutnya dilakukan pemilahan, pengelompokkan, dan pengkodean data sesuai tujuan dan keperluan penelitian. (2) data yang telah dikelompokkan segera dianalisis. Teknik analisis data tentang sosiologis-historis tradisi Larung Sesaji dan analisis fungsi menurut William R. Bascom. Data yang diperoleh harus dipadukan dengan pendapat informan yang mampu memberikan penjelasan representatif tentang tradisi Larung Sesaji di Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang. (3) Analisis data yang terakhir adalah membuat simpulan sosiologis-historis dan analisis fungsi menurut William R. Bascom mengenai tradisi Larung Sesaji di Pantai Ngliyep Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang.

H. Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data
Untuk memeriksa keabsahan data, ada tiga cara seperti yang disarankan Sudikan (2001: 169) yaitu: (1) melakukan triangulasi, (2) melakukan peer debriefing, dan (3) melakukan member check dan audit trial.
Pada langkah ini, peneliti menggunakan teknik triangulasi. Triangulasi pengumpulan data dan triangulasi teori. Triangulasi pengumpulan data digunakan untuk mencari data dengan menggunakan teknik observasi, perekaman, pencatatan, dan wawancara. Triangulasi teori, dilakukan dengan cara mengkaji sosiologis-historis dan analisis fungsi menurut William R. Bascom, sehingga dalam penelitian ini tidak digunakan teori yang tunggal tetapi dengan teori yang jamak. Peneliti juga melakukan diskusi dengan dosen pembimbing.


BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pembahasan hasil penelitian Tradisi Larung Sesaji di Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang (Kajian Fungsi William R. Bascom dan Sosiologis-Historis) mengacu pada rumusan masalah dan tujuan penelitian yang meliputi latar belakang munculnya Tradisi Larung Sesaji di Pantai Ngliyep Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang, mengkaji latar belakang munculnya Tradisi Larung Sesaji dengan menggunakan sosiologis-historis dan teori fungsi William R. Bascom.

A.  Latar Belakang Munculnya Tradisi Larung Sesaji di Pantai Ngliyep Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang
Perilaku religi yang diwujudkan dalam upacara didorong oleh emosi keagamaan. Dengan demikian getaran jiwa karena satu atau beberapa alasan dari kesadaran manusia akan adanya makhluk halus dari jiwa orang-orang mati (Samin dalam Nurwoko, 2010).
Larung Sesaji dilaksanakan di Pantai Ngliyep Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang karena ada faktor pendorong yang berkaitan dengan adanya “pagebluk” yang menimpa warga Desa Kedungsalam. “Pagebluk” merupakan suatu wabah penyakit yang pada tahun 1913 melanda warga Desa Kedungsalam. Larung Sesaji pada tanggal 13 malam 14 di bulan Maulud diadakan untuk memperoleh keselamatan dan terhindar dari “pagebluk”. Kalau Larung Sesaji ini dilaksanakan pada bulan Maulud, hal ini merupakan gejala baru yang secara kebetulan hanya bersamaan dengan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW dalam agama Islam. Untuk lebih jelasnya berikut adalah hasil dari wawancara  peneliti dengan salah satu kerabat labuh yaitu Mbah Kasbun.
Kula niki namung nerusaken punopo ingkang sampun dilampahi mbah buyut, nggih mbah Atun, mbah Di, lan Mbah Pangat. Larung diwontenaken supados masyarakat Kedungsalam mriki tebih saking pagebluk lan diparingi keslametan lahir lan batin. Pagebluk niku salah satunggaling wabah penyakit.
Inggih jenenge tiang sepuh, dados lurah Mbah Tholib kolo semanten ngraosaken wargane susah, ngggih nderek susah amargi kenging pagebluk, isuk loro sore mati, sore loro isuk mati. Pokokipun tiang mboten kiat lajeng mboten jelas sakitipun, ngertos-ngertos pejah. Mbah Tholib pados dalan kangge ngindaraken kesusahan terus nyuwun petunjuk saking Moho Kuwaos, lajeng angsal wisik supados nglaksanani larung sajen wonten Ngliyep.
Mbah Tholib dipun rencangi sederekipun mbah Atun sareng-sareng kalian warga desa mriki nglaksanani perintah wisik niku nyuwun petunjuk Gusti Kanjeng Nyai Ratu Mas Roro Kidul kalian larung sajen. Saksampunipun niku warga desa mriki saget tentrem. Larung pertama niku tanggal telu-las malem pat-belas sasi Maulud tahun 1913 nalika semanten lurahipun Mbah Tholib. Kuwi yo mung manut opo sing diperintahake soko kono. Tanggal telu-las malem pat-belas sasi Maulud miturut Mbah rumiyin inggih wanci ingkang sahe. Tanggal niku sampun ditetapaken saking riyine. Niku pilihane Mbah Tholib, menawi saking wisike. Mboten wonten kaitanipun kalian kelahiran Nabi Muhammad. Nggih naming ngepasi mawon wulanipun sami.
Artinya: Saya ini hanya meneruskan apa yang telah dijalani pendahulu saya, Mbah Atun, Mbah Di, dan Mbah Pangat. Larung Sesaji diadakan agar masyarakat Desa Kedungsalam terhindar dari “pagebluk” dan diberi keselamatan lahir dan batin. “Pagebluk” itu salah satu wabah penyakit.
Ya namanya saja orang tua, sebagai Kepala Desa Mbah Tholib ketika itu merasakan warganya dalam kesusahan sehingga ikut susah karena terkena “pagebluk”, pagi sakit sore meninggal, sore sakit pagi meninggal. Pokoknya orang tidak kuat dan tidak begitu jelas bentuk sakitnya, mendadak meninggal. Mbah Tholib mencari jalan untuk menghindarkan kesusahan itu dengan meminta petunjuk pada Tuhan, lalu dapatlah wisik (bisikan atau ilham) agar melakukan Larung Sesaji di Ngliyep.   
Mbah Tholib dan saudaranya yang bernama Mbah Atun bersama-sama dengan warga desa di sini menjalankan perintah wisik (bisikan atau ilham) itu untuk memohon petunjuk atau pertolongan Kanjeng Nyai Ratu Mas Roro Kidul dengan Larung Sesaji. Setelah itu warga desa di sini dapat hidup tentram. Larung Sesaji pertama kali dilaksanakan pada tanggal 13 malam 14 bulan Maulud tahun 1913 saat kepala desa (pertama) Mbah Tholib. Itu hanya apa yang diperintahkan dari “sana”. Tanggal 13 malam 14 bulan Maulud menurut Mbah dahulu adalah waktu yang baik. Tidak ada hubungannya dengan kelahiran Nabi Muhammad. Ya hanya secara kebetulan saja waktunya sama. Tanggal itu sudah ditetapkan dari dulunya. Itu pilihan Mbah Tholib, mungkin dari wisiknya (bisikan atau ilham).
Jadi, Larung Sesaji lahir karena suatu keadaan berbahaya dengan munculnya suatu penyakit yang menyerang warga desa Kedungsalam pada tahun 1913. Masyarakat Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang dengan keterbatasan akalnya mencoba memohon bantuan pada kekuatan supranatural yaitu Kanjeng Nyai Ratu Mas Roro Kidul dan mendapatkan jalan keluar melalui datangnya wisik (bisikan atau ilham) yang disampaikan melalui Mbah Tholib (kepala Desa Kedungsalam pertama) dengan ditemani Mbah Atun dan masyarakat Desa Kedungsalam dilakukanlah Larung Sesaji itu. Dengan demikian, pelaksanaan Larung Sesaji pada tanggal 13 malam 14 bulan Maulud merupakan pilihan dari sana (wisik yang diterima Mbah Tholib), serta tidak ada kaitannya dengan kelahiran Nabi Muhammad. Hanya kebetulan saja bulannya sama, yaitu bulan Maulud.
B.  Kemunculan Teori Sosiologis-Historis dalam Tradisi ”Larung Sesaji” di Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang
Dengan adanya tradisi yang terdapat di setiap wilayah, tentunya mempunyai latar belakang sejarah. Ketika suatu tradisi memiliki latar belakang, secara tidak langsung keberadaan masyarakat yang ada di sekitarnya berpengaruh pada terciptanya tradisi tersebut. Tradisi “larung sesaji”, tepatnya yang ada di Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang memiliki latar belakang sejarah yang berkaitan erat dengan keadaan sosial masyarakat di sekitarnya.
Tepatnya tanggal 13 malam 14 bulan Maulud, lahirlah suatu tradisi Jawa kejawen yang berada di Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang. Tidak ada tradisi yang muncul tanpa latar belakang, alih-alih tradisi “larung sesaji” juga mempunyai histori atau sejarah. Alkisah, di Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang timbulnya wabah penyakit yang disebut “pagebluk” menyebabkan warga curiga akibat kematian yang secara tiba-tiba menyerang masyarakat sekitar. Akhirnya Mbah Tholib dan Mbah Atun mencari cara agar warga masyarakat Desa Kedungalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang. Dapatlah sebuah wangsit dari Sang Hyang Widhi, sebuah terobosan yang ampuh sebagai cara untuk menghilangkan penyakit “pangebluk” tersebut. Memang sedikit aneh, ketika ada suatu bisikan agar penyakit itu hilang. Sampai saat ini masih berkembang dalam lingkungan masyarakat sekitar.
Larung Sesaji” menjadi salah satu cara untuk mengatasi penyakit tersebut. Berawal dari tahun 1913, para tokoh masyarakat meminta bantuan dari tenaga supranatural, yaitu Nyai Ratu Mas Roro Kidul. Dengan adanya bantuan tersebut, akhirnya Nyai Ratu Mas Roro Kidul meminta syarat tertentu dalam penyembuhan penyakit yang ada di Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang. Masyarakat sekitar pun akhirnya menyanggupi syarat-syarat yang diutarakan oleh Nyai Ratu Mas Roro Kidul. Sehingga, sampai sekarang pun dapat menjadikan tradisi berupa “larung sesaji”. Diawali dengan upacara tertentu dari para sesepuh, dilanjutkan dengan adanya penghanyutan sesaji, selain itu juga terdapat pertunjukan-pertunjukkan tertentu dari masyarakat.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa tradisi “larung sesaji” yang menjadi kebiasaan masyarakat setiap bertepatan dengan bulan Maulud mempunyai dampak yang luar biasa dari masyarakat di Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang. Terhindarnya penyakit “pagebluk” menjadi salah satu contoh bahwa dengan adanya tradisi “larung sesaji”, masyarakat sekitar terhindar dari penyakit tersebut. Sebagai salah satu kebiasaan yang diadakan setiap tahunnya, masyarakat juga tidak merasa keberatan ketika mereka harus mengumpulkan syarat-syarat yang harus ada dalam penghanyutan sesaji tersebut ke laut. Apresiasi masyarakat Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang begitu antusias ketika acara tersebut berlangsung. Hal itu diakibatkan karena dahulunya, tanpa adanya acara tersebut, masyarakat sangat menderita. Namun, sekarang masyarakat sudah terbiasa dengan hal-hal tersebut. Walaupun berbau mitos, masyarakat tetap memandang tradisi “larung sesaji “sebagai sebuah anugerah yang luar biasa tercurah kepada masyarakat di Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang.  

DAFTAR RUJUKAN
Endraswara, Suwardi. 2004. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Widyatama.
Hidayat, Pepi. 2013.  Gelar Sedekah Laut (Larung Sesaji). [online]. Tersedia: http://journal.unsil.ac.id/jurnalunsil-1575-.html. Diakses Pada 24 November 2013.
Hyandini, Hardinna. 2011. Tradisi Lisan Etnik Mina. [online]. Tersedia: Hardinna Hyandini.blogspot.com/2011/04/Tradisi-Lisan.etnik-muna.html.Diakses pada 24 November 2013.
Irawan, Septian. 2011. Penelitian Sastra Lisan. [online]. Tersedia: Septian Irawan.blogspot.com/2011/09/Penelitian-sastra-lisan.html.Diakses pada 24 November 2013.
Kurniawan, Dwi. 2012. Penelitian Kualitatif Tradisi Lisan dan Sastra Lisan. [online]. Tersedia: dwikurniawan.blogspot.com/2012/08/Penelitian-kualitatif-tradisi-lisan-dan-sastra-lisan.html. Diakses pada 24 November 2013.
Martin, Risnowati dan Irmayanti Meliono. 2012. Tradisi Lisan. [online]. Tersedia: Icssis.Files.Worldpress.com/2012/05/18190/2011_27.pdf. Diakses pada 24 November 2013.
Sudikan, Setya Yuwana. 2001. Metode Penelitian Sastra Lisan. Surabaya: Citra Wacana.