BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Cerita rakyat merupakan salah satu bentuk ekspresi kebudayaan daerah yang
jumlahnya sangat banyak di seluruh Indonesia. Bahasa-bahasa daerah yang menjadi
media pengucapan tradisi lisan itu juga merupakan bagian dari kebudayaan
tradisional. Hal ini sejalan dengan pendapat Rosidi dalam
Kurniawan (2012) bahwa bahasa yang paling tepat
dapat mengekspresikan isi kebudayaan daerah adalah bahasa daerah yang
bersangkutan.
Eksistensi cerita rakyat merupakan suatu fenomena budaya yang bersifat universal
dalam kehidupan masyarakat. Sebagai produk budaya masyarakat, sastra lisan baik
jenis prosa maupun puisi dapat dijumpai hampir di seluruh tempat. Sastra lisan
pada umumnya tercipta sebagai tanggapan dan hasil pemikiran sistem kemasyarakatan
(Razali dan Jonson dalam Irawan, 2011). Cerita rakyat sebagai bagian dari folklor bersifat
komunal (dengan pengertian milik bersama masyarakat), lokal (muncul dan
berkembang di suatu tempat tertentu), serta informal (diturunkan tidak melalui
pendidikan formal). Sifatnya yang lisan, komunal, dan informal mengakibatkan
keaslian sastra lisan sukar untuk dapat dipertahankan dalam jangka waktu lama.
Perubahan-perubahan tidak dapat dihindari sejalan dengan perubahan waktu dan
penyebarannya pun semakin meluas.
Sastra lisan, termasuk cerita rakyat merupakan warisan budaya nasional dan
masih mempunyai nilai-nilai yang patut dikembangkan dan dimanfaatkan untuk
kehidupan masa kini dan masa yang akan datang, antara lain dalam hubungan
dengan pembinaan apresiasi sastra. Sastra lisan juga telah lama berperan
sebagai wahana pemahaman gagasan dan pewarisan tata nilai yang tumbuh dalam
masyarakat. Bahkan, sastra lisan telah berabad-abad berperan sebagai dasar
komunikasi antara pencipta dan masyarakat, dalam arti ciptaan yang berdasarkan
lisan akan lebih mudah digauli karena ada unsur yang dikenal dalam masyarakat
(Rusyana dalam
Kurniawan, 2012). Sastra lisan lisan memiliki
peranan penting, tidak saja ditinjau dari segi pembinaan dan pengembangan
sastra daerah, tetapi juga penting dalam pembinaan dan pengembangan sastra
Indonesia (Hakim dalam Kurniawan, 2012).
Berdasarkan pendapat di atas, tanggung jawab terhadap
warisan leluhur bangsa tidak hanya bergantung kepada satu individu saja tetapi
setiap individu mempunyai tanggung jawab individu dan sosial terhadap warisan leluhur untuk
dilestarikan. Pelestarian warisan leluhur bukan sekedar
memuseumkan melainkan mengambil nilai-nilai positif yang terkandung dalam
warisan budaya tersebut. Upaya tersebut juga dapat dimaknai sebagai transformasi
atau mengubah bentuk budaya tersebut tanpa menghilangkan wujud budaya asli. Salah
satu wujud keanekaragaman kebudayaan terintegrasi pada tradisi lisan.
Keberadaan tradisi lisan sebagai bagian dari kebudayaan manusia merupakan
sesuatu yang dapat merentang ke arah kehidupan yang multidimensi yang memasuki
corak kehidupan yang paling dalam. Oleh karena itu, tradisi lisan mempunyai
hubungan yang sangat erat dengan kebudayaan.
Perubahan pola pikir masyarakat dapat pula menyebabkan ketidakpedulian terhadap
sastra lisan. Sastra lisan hanya dipandang sebagai kisah-kisah yang tidak masuk
akal dan berada di luar jangkauan akal sehat. Hal ini tentu menjadi ancaman
terhadap eksistensi sastra lisan, jika masyarakat melupakannya dari kehidupan
mereka (Razali dan Jonson dalam Kurniawan, 2012). Cerita
rakyat yang terdapat di Kabupaten Malang, hingga saat ini masih bisa dijumpai
meskipun hanya setahun sakali pada saat bulan Maulid. Mekipun demikian beberapa
cerita hingga saat ini masih dipertahankan keberadaannya, karena dianggap
membawa berkah. Di Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang
misalnya, setiap bulan Maulud terdapat sebuah acara upacara Larung Sesaji di pantai Ngliyep yang
selalu diperingati dan diadakan setiap tahunnya. Upacara tersebut merupakan
ungkapan rasa syukur dan berdoa kepada Tuhan dan penguasa laut pantai selatan karena
dipercaya dapat menghindarkan masyarakat Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo
Kabupaten Malang dari marabahaya.
Berdasarkan uraian-uraian di atas, penulis tertarik untuk
mendeskripsikan dan mengkaji cerita
rakyat yang ada di Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang dengan
mengambil judul Tradisi Larung Sesaji di
Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang (Kajian Fungsi R. Bascom
dan Sosiologis-Historis). Penelitian tradisi larung
sesaji yang terjadi di Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang ini
menggunakan
pisau bedah teori sosiologis-historis yang bertujuan untuk memahami latar
belakang munculnya tradisi Larung Sesaji dalam lingkungan kehidupan masyarakat Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang serta teori fungsi William R. Bascom yang
bertujuan untuk mengetahui fungsi tradisi Larung
Sesaji dalam kehidupan masyarakat Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo
Kabupaten Malang.
B. Fokus Penelitian
Berdasarkan
latar belakang di atas, fokus penelitian Tradisi
Larung Sesaji di Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang adalah
sebagai berikut:
1.
Latar belakang munculnya Tradisi Larung Sesaji di Pantai Ngliyep Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang.
2.
Mengkaji Tradisi Larung Sesaji di Pantai Ngliyep Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo
Kabupaten Malang dengan menggunakan teori sosiologis-historis.
3.
Mengkaji Tradisi Larung Sesaji di Pantai Ngliyep Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo
Kabupaten Malang dengan menggunakan teori fungsi William R. Bascom.
C. Tujuan Penelitian
1.
Mendeskripsikan latar belakang munculnya Tradisi Larung Sesaji di Pantai Ngliyep Desa Kedungsalam Kecamatan
Donomulyo Kabupaten Malang
2.
Mendeskripsikan kajian Tradisi Larung Sesaji di Pantai Ngliyep Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo
Kabupaten Malang dengan menggunakan teori sosiologis-historis
3.
Mendeskripsikan kajian Tradisi Larung Sesaji di Pantai Ngliyep Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo
Kabupaten Malang dengan menggunakan teori fungsi William R. Bascom.
D. Manfaat Penelitian
Secara
teoretis, hasil penelitian ini menghasilkan konsep tentang adanya fungsi dan teori sosiologis-historis dalam “Larung
Sesaji” di Pantai
Ngliyep Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang. Secara praktis,
hasil penelitian ini diharapkan menghasilkan model penelitian yang dapat
digunakan sebagai acuan oleh para peneliti selanjutnya. Selain itu, berdasarkan
objek penelitian bermanfaat untuk memperdalam penjelasan tentang cerita “Larung
Sesaji” di Pantai
Ngliyep Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang, khususnya dari
segi fungsi dan sosiologis-historis.
Manfaat praktis
bagi pendidik dan calon pendidik diharapkan hasil penelitian ini bermanfaat
untuk meningkatkan pengetahuan dan apresiasi terhadap tradisi lisan dalam kehidupan
masyarakat. Dengan demikian, kualitas pembelajaran tradisi lisan dapat lebih
meningkat. Manfaat praktis bagi mahasiswa program studi
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, hasil penelitian ini sebagai bahan
pustaka dalam kegiatan analisis
atau kajian suatu
tradisi, terutama tradisi lisan.
BAB II
KAJIAN
PUSTAKA
Pada bagian ini dikemukakan hal-hal yang
berkaitan dengan kajian latar belakang munculnya
tradisi “Larung Sesaji” di
Pantai
Ngliyep Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten
Malang yaitu (1) penelitian
terdahulu, serta (2) teori dan konsep yang digunakan untuk menganalisis latar belakang munculnya tradisi “Larung Sesaji” di Desa Kedungsalam
Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang berdasarkan analisis sosiologis-historis
dan teori fungsi William R. Bascom.
A. Penelitian Terdahulu yang Relevan
Penelitian sebelumnya pernah
dilakukan oleh Pepi Hidayat (2013) meneliti tentang “Larung Sesaji”
untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan Larung
Sesaji di Teluk Penyu Kabupaten Cilacap, serta makna esensialnya dengan
penjabaran sebagai berikut: Proses Larung Sesaji berlangsung selama dua hari, dimulai
dari hari Kamis, 6 Desember 2012 dengan kegiatan terdiri dari: (1) Persiapan:
pembuatan dan persiapan panitia, Ziarah dan pengambilan air suci di Karang
Bandung, Sedekah Laut Paguyuban Sekartaji, dan Tirakatan. (2) Pelaksanaan pada
hari Jumat, 7 Desember 2012 dengan kegiatan terdiri dari: upacara seserahan jolen,
pengarakan jolen, pelarungan jolen, ruwatan, pagelaran kesenian kuda kepang dan
pucangan, selametan atau kendurenan. (3) Penutupan: laporan resepsi dari
panitia dan pagelaran wayang kulit. Sedangkan makna esensial dari “Larung Sesaji” itu sendiri diantaranya pembersihan jiwa,
memperingati tahun baru Islam, menjalankan amanat leluhur, mendapatkan
keberkahan dan keselamatan, sebagai bentuk kepatuhan kepada leluhur dan Tuhan Yang
Maha Esa, serta menjaga keharmonisan nelayan dengan alam.
Selanjutnya, penelitian yang
berhubungan dengan teori fungsi, La Niampe (2008), dipresentasikan seminar
internasional lisan VI Wakatobi dengan judul “Tuturan Tentang Katoba dalam Tradisi Lisan Muna: Deskripsi Nilai dan
Fungsi”. Yang didalamnya berisi mengenai Tradisi Lisan Ritual Katoba (TLRK) sebagai
produk budaya masyarakat etnik Muna mengungkapkan beberapa hal penting yang
berhubungan dengan bentuk TLRK yang berbentuk teks naratif, fungsi TLRK, dan
makna dari TLRK itu sendiri. Selain itu juga terdapat 2 fungsi yakni fungsi didaktis dan fungsi religius yang
sangat bermanfaat bagi masyarakat Muna.
Ritual Petik Laut pada masyarakat nelayan yang ada di daerah Donomulyo, Malang juga pernah
diteliti oleh mahasiswa Fakultas Ilmu Kebudayaan, Universitas Indonesia (Hardi,
2012). Secara garis
besar berisi tentang pemaparan Tradisi Petik Laut yang selalu di
laksanakan oleh masyarakat sekitar Kecamatan Donomulyo setiap tanggal 27 September
dengan serangkaian ritual mulai dari tasyakuran sebagai simbol pembukaan hingga
diadakannya pagelaran wayang kulit yang diselenggarakan semalam suntuk sebagai
simbol penutupan Tradisi
Ritual Petik Laut.
B. Teori yang Digunakan
1.
Konsep Dasar Legenda
Sama halnya dengan mitos, legenda dan mitos sama-sama
mempunyai kesamaan. Keduanya sama-sama menampilkan cerita yang menarik dengan tokoh-tokoh
hebat yang mempunyai kemampuan diluar batas manusia pada umumnya. Hanya saja
jika mitos dikaitkan dengan dewa-dewa atau kekuatan supranatural, sebaliknya legenda mengaitkan dengan tokoh,
peristiwa dan tempat yang nyata yang mempunyai kebenaran sehingga bersifat
historis. Legenda dikelompokkan menjadi tiga macam, diantaranya legenda tokoh,
legenda peristiwa dan legenda tempat
peninggalan. Dalam penelitian ini sangat berkaitan antara hakikat legenda itu
sendiri dengan peristiwa yang melatarbelakangi terjadinya
tradisi Larung
Sesaji
di Pantai
Ngliyep Desa Kedungsalam
Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang. Jika dilihat dari pengertiannya, maka Larung Sesaji termasuk kedalam jenis legenda peristiwa, dimana
menceritakan tentang peristiwa-peristiwa besar yang terjadi.
Peristiwa-peristiwa yang dimaksudkan disini adalah memberikan seserahan berupa
makanan
dan sesajian yang kemudian di
hanyutkan di salah satu pantai yakni pantai Ngliyep yang terletak di Desa
Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang. Tradisi itu dilakukan sebagai bentuk penghormatan
kepada penguasa Pantai Selatan.
2.
Teori
Sosiologis Historis
Berasal dari dua kata “sosiologis” dan “Historis”. Sosiologis lebih mengacu pada masyarakat sekitar yang
erat kaitannya dengan “Larung Sesaji”.
Secara historis, teori tersebut dinampakkan dalam sejarah atau latar belakang
munculnya Larung Sesaji. Pada dasarnya, teori sosiologis-historis ini mempunyai cakupan yang
cukup luas. Menurut Webster dalam Kurniawan (2012) terdapat lima dimensi yang perlu
untuk diungkap, antara lain :
1.
Posisi negara miskin dalam
hubungan sosial ekonominya dengan Negara-negara lain.
2.
Ciri khas atau karakter dari
suatu masyarakat yang mempengaruhi pembangunan.
3.
Hubungan antara proses budaya
dan ekonomi yang mempengaruhi pembangunan.
4.
Aspek sejarah dalam proses
pembangunan atau perubahan sosial yang terjadi.
5.
Penerapan berbagai teori
perubahan sosial yang mempengaruhi kebijakan pembangunan nasional pada
Negara-negara berkembang.
Dengan adanya kelima dimensi yang terdapat pada teori
sosiologis-historis nampak jelas bahwa kebudayaan masyarakat tidak akan pernah
lepas dari sejauh mana sejarah atau tradisi di daerah tersebut.
3. Teori Fungsi Ala William R. Bascom
Seiring dengan perkembangan teori yang muncul dalam
tradisi lisan di Indonesia, mengakibatkan Indonesia kaya akan analisis dalam
membedah dongeng, mitos, dan lain-lain. Dengan adanya teori-teori yang ada
dalam tradisi lisan, maka mempermudah menganalisis serta mengetahui seluk beluk
tradisi lisan tersebut. Teori fungsi, merupakan salah satu teori yang
dicetuskan oleh tokoh-tokoh dalam bidang sastra lisan. Teori ini juga menjadi
landasan dalam menganalisis unsur-unsur tradisi lisan dan sastra lisan. Dengan adanya teori ini, diharapkan pembaca
dapat lebih menggunakan teori yang tepat untuk analisis struktur dalam cerita.
Pada dasarnya, teori fungsi juga mencakup aspek-aspek yang berhubungan dengan
adanya fungsi yang terkandung dalam sebuah cerita atau tradisi tertentu.
Menurut William R. Bascom (dalam
Sudikan, 2002: 109), sastra lisan mempunyai empat fungsi, yaitu (a) sebagai
sebuah bentuk hiburan (as a form of
amusement), (b) sebagai alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga-lembaga
kebudayaan (it plays in validating
culture, in justifying its rituals and institution to those who perform and
observe them), (c) sebagai alat pendidikan anak-anak (it plays in education, as pedagogical device), dan (d) sebagai alat
pemaksa dan pengawas agar norma-norma masyarakat akan selalu dipatuhi
kolektifnya (maintaining conformity to
the accepted patterns of behavior, as means of applying social pressure and
exercising social control).
BAB III
METODE
PENELITIAN
Pada bagian ini
akan diuraikan (1) pendekatan penelitian, (2) lokasi dan subjek penelitian, (3)
informan, (4) teknik pengumpulan data, (5) teknik terjemahan, (6) teknik
analisis data, dan (7) teknik pemeriksaan keabsahan data.
A. Pendekatan
Penelitian
Pendekatan merupakan ruang lingkup penelitian, berhubungan dengan
aspek-aspek yang akan diungkap dalam penelitian. Pendekatan akan membingkai
objek apa saja yang mungkin diungkap dalam penelitian. Itulah sebabnya
pendekatan juga sering dinamakan motode penelitian. Metode penelitian adalah
cara yang dipilih peneliti dengan mempertimbangkan bentuk, isi, dan sifat
sastra sebagai subjek kajian. Metode semestinya mengangkat cara yang
operasional dalam penelitian. Metode ini membutuhkan langkah penelitian yang
pantas diikuti. Adapun teknis berhubungan dengan proses pengambilan data dan
analisis penelitian (Endraswara, 2003: 8).
Penelitian
kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa
yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku. Dalam penelitian ini, digunakan
pendekatan kualitatif untuk memeroleh data tertulis maupun lisan dari orang dan
perilaku yang diamati. Hal ini sejalan
dengan pendapat Strauss dan Corbin dalam Kurniawan (2012) bahwa penelitian kualitatif adalah
jenis penelitian yang temuan-temuannya tidak diperoleh melalui prosedur
statistik dan bentuk hitungan lainnya. Contohnya dapat berupa penelitian
tentang kehidupan, riwayat, dan perilaku seseorang, di samping juga tentang
peranan organisasi, pergerakan sosial, atau hubungan timbal balik.
Ciri penelitian
kualitatif adalah (1) latar alamiah, (2) manusia sebagai alat (instrumen), (3)
metode berupa: pengamatan, wawancara, dan penelaahan dokumen, (4) analisis data
secara induktif, (5) teori dari dasar (grounded
theory), (6) deskriptif (berupa
kata-kata dan gambar), (7)
lebih mementingkan proses daripada hasil, (8) batasan penelitian ditentukan
oleh fokus, (9) keabsahan data dilakukan dengan: triangulasi, peer debriefing, dan member check, (10) desain yang
bersifat sementara (menyusun desain secara terus-menerus disesuaikan dengan
kenyataan di lapangan). Penelitian mengenai tradisi Larung Sesaji di Pantai Ngliyep Desa
Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang termasuk penelitian kualitatif
karena penelitian ini bermaksud untuk memahami tentang apa yang melatar
belakangi munculnya tradisi Larung Sesaji.
Dalam hal ini peneliti melakukan wawancara dengan salah satu kerabat labuh yaitu
Mbah Kasbun yang merupakan adik kandung dari Mbah Pangat (juru kunci Gunung
Kombang Pantai Ngliyep dan ketua dalam ritual Larung Sesaji) untuk memperoleh data secara akurat.
B. Lokasi
Penelitian
Penelitian ini
dilaksanakan di Desa
Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang. Alasan
dipilihnya Desa
Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang sebagai lokasi
penelitian karena masyarakat masih mengenal dengan baik tradisi Larung Sesaji di Pantai Ngliyep.
C. Informan
Informan adalah
pembicara asli (native speaker), yang diminta oleh peneliti untuk
berbicara dalam bahasanya atau dialeknya sendiri. Informan merupakan sumber
informasi. Penentuan
informan dalam penelitian kualitatif umumnya menggunakan teknik snowball.
Menurut Nasution dalam Kurniawan (2012), teknik snowball
digunakan dengan cara, informan pertama diminta untuk menunjuk informan kedua
yang dapat memberi informasi, kemudian informan kedua diminta menunjuk informan
ketiga, dan seterusnya. Hal ini dilakukan secara serial dan berurutan. Dalam penelitian ini peneliti
menemui Bapak Sujarni (salah satu kerabat Larung
Sesaji dari Desa Tempursari) untuk melakukan wawancara terkait tradisi Larung Sesaji di Pantai Ngliyep, namun
karena sesuatu hal beliau tidak dapat memberikan informasi mengenai tradisi Larung Sesaji dan menyuruh peneliti
untuk menemui Mbah Gemi (sepupu Mbah Pangat). Setelah menemui Mbah Gemi di
rumahnya yang berada di Desa Mentaraman RT 13 RW 01, beliau takut salah untuk
memberikan informasi terkait Larung
Sesaji karena ini tidak sembarang orang dapat memberikan informasi.
Kemudian Mbah Gemi mengantar peneliti menuju Dusun E-Jaran yang ada di Desa
Kedungsalam untuk menemui Mbah Mesenan (tukang sapu yang telah mengikuti Larung Sesaji sejak ketuanya Mbah Atun).
Karena kebetulan di Gunung Kombang Pantai Ngliyep sedang ada tamu, jadi Mbah
Mesenan berada di sana. Kemudian Mbah Sriatun (istri Mbah Mesenan) mengantarkan
peneliti dan Mbah Gemi untuk menemui Mbah Kasbun (adik kandung almarhum Mbah
Pangat, juru kunci Gunung Kombang Pantai Ngliyep dan ketua dalam ritual Larung Sesaji) yang saat itu berada di
Lumbung (tempat pemujaan yang menghubungkan antara dunia manusia dengan dunia
penguasa pantai selatan). Dengan ditemani Mbah Gemi, peneliti melakukan
wawancara dengan Mbah Kasbun terkait dengan latar belakang munculnya Larung Sesaji di Pantai Ngliyep Desa
Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang.
Ada empat hal
yang perlu diperhatikan dalam penentuan informan, yaitu (1) informan dapat diperoleh
dari petunjuk kepala desa atau orang lain (tetapi kadang-kadang tidak dapat
dipercaya), (2) peneliti seharusnya mencari informan sendiri, (3) hati-hati
dengan informan yang menonjolkan diri dengan motif ingin mendapatkan uang, (4)
daerah yang pernah diteliti orang kadang-kadang merupakan daerah yang tidak
murni lagi Hutomo
dalam Irawan (2011).
Menurut
Spradley
dalam Sudikan (2001: 167) ada lima
persyaratan minimal informan yang baik untuk dipilih yaitu: (1) enkulturasi penuh, (2) keterlibatan langsung,
(3) suasana budaya yang tidak dikenal, (4) waktu yang cukup, dan (5)
non-analitis.
Pada penelitian
ini, informan yang dipilih berdasarkan beberapa pertimbangan, yaitu (1)
penduduk asli setempat, (2) dewasa, (3) memiliki pengetahuan yang baik tentang tradisi Larung Sesaji, (4) sehat
jasmani dan rohani, (5) tidak harus tokoh masyarakat, (6) memiliki informasi
lain yang diperlukan untuk menjawab fokus penelitian.
Informan dalam
penelitian ini adalah
Mbah Kasbun, salah satu kerabat Larung
Sesaji yang merupakan adik kandung dari almarhum Mbah Pangat (juru kunci
Gunung Kombang Pantai Ngliyep dan ketua dalam ritual Larung Sesaji).
D. Teknik
Pengumpulan Data
Teknik
pengumpulan data dalam penelitian sastra lisan dapat menggunakan (1) teknik
perekaman, baik audio maupun audiovisual, (2) pemotretan, (3) pencatatan, (4)
wawancara yang mendalam, dan (5) studi kepustakaan dan analisis dokumentasi
(Sudikan, 2001:
173).
Dalam
penelitian ini, peneliti menggunakan teknik pengumpulan data yang dinyatakan
oleh Sudikan, yakni (1) mengadakan pengamatan di lokasi penelitian, yaitu di Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang, (2) mengadakan
perekaman data yang didapat dari informan, (3) mengadakan pencatatan yang
berkaitan dengan tradisi
Larung Sesaji, dan (4) mengadakan
wawancara dengan informan.
1. Observasi
(Pengamatan)
Teknik
observasi digunakan untuk mendapatkan data tentang tradisi Larung Sesaji di Pantai Ngliyep Desa Kedungsalam Kecamatan
Donomulyo Kabupaten Malang. Melalui teknik
ini peneliti dapat melihat sendiri pemahaman yang tidak terucapkan (tacid
understanding) mengenai tradisi
Larung Sesaji dalam
kehidupan bermasyarakat.
2. Rekaman
Rekaman digunakan dalam penelitian
ini untuk mendapatkan data yang berkaitan dengan tradisi Larung Sesaji itu sendiri.
Dalam hal ini peneliti meminta informan untuk melisankan tradisi Larung Sesaji di Pantai Ngliyep Desa Kedungsalam Kecamatan
Donomulyo Kabupaten Malang. Perekaman menggunakan perekam suara di telepon
genggam (handphone).
3. Teknik
Pencatatan
Setelah data mengenai tradisi Larung Sesaji diperoleh,
langkah selanjutnya adalah memindahkan data tersebut ke dalam bentuk tulisan.
Dalam hal ini penulis menggunakan teknik yang dikemukakan oleh Hutomo dalam Irawan (2011), yakni (1)
melakukan transkripsi kasar dengan cara memindahkan semua suara dalam rekaman
ke dalam bentuk tulis tanpa mengindahkan tanda baca; pada tahap ini suara rekaman dalam bahasa Jawa dipindahkan ke
dalam bentuk tulis; (2) transkripsi kasar tersebut kemudian disempurnakan; (3)
hasil transkripsi yang telah disempurnakan kemudian diberi tanda baca dan
catatan penting; dan (4) setelah itu, transkripsi tersebut diketik ulang.
4. Wawancara
Menurut Supratno dalam Kurniawan (2012) bahwa teknik
wawancara secara garis besar ada dua, yaitu wawancara tak berstruktur dan
wawancara berstruktur. Wawancara tak berstruktur adalah wawancara yang bersifat
bebas dan tidak direncanakan, sedangkan wawancara berstruktur adalah wawancara
yang dipersiapkan
oleh peneliti
dan mengarah pada fokus penelitian.
Penelitian ini
menerapkan teknik wawancara
berstruktur. Wawancara dilakukan secara mendalam (deepth interview). Dengan cara
ini, data wacana (lisan) tradisi
Larung Sesaji di Pantai Ngliyep Desa
Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang dapat diperoleh secara
wajar.
Wawancara
berstruktur direkam dengan
video recorder di telepon genggam (handphone). Hal tersebut
dilakukan untuk memudahkan pengumpulan data.
E. Teknik
Transkripsi
Dalam pengalihan wacana lisan ke
tulis, akan berpedoman pada pedoman ejaan. Kridalaksana dalam Kurniawan (2012) menjelaskan
bahwa ejaan adalah penggambaran bunyi bahasa dengan kaidah tulis-menulis yang
distandardisasikan yang
lazim mempunyai aspek yakni aspek fonologis yang menyangkut penggambaran fonem
dengan huruf dan abjad, aspek fonologis menyangkut penggambaran satuan-satuan
morfemis, aspek sintaksis menyangkut penanda ujaran berupa tanda baca. Adapun
sistem ejaan yang dipergunakan di dalam transkripsi ini disesuaikan dengan
pedoman ejaan bahasa Jawa.
F. Teknik
Terjemahan
Tradisi Larung Sesaji umumnya dituturkan dalam bahasa Jawa, karena itu peneliti dituntut melakukan penerjemahan ke dalam
Bahasa Indonesia. Kemampuan menerjemahkan
membutuhkan bakat dan pengetahuan tentang teori menerjemahkan tanpa kehilangan
makna dan nilai yang terkandung dalam teks asli. Hutomo dalam Irawan (2011) menyatakan ada tiga hal yang terdapat dalam
penerjemahan, yaitu terjemahan bebas (free
translation), terjemahan literal (literal
translation), dan terjemahan kata demi kata (word-for-word translation).
Untuk menerjemahkan tradisi Larung
Sesaji dalam penelitian ini, peneliti
menggunakan teknik terjemahan literal agar teks dapat dibaca dan dimengerti
tanpa mengubah konteks aslinya. Dalam penelitian ini teks asli ditampilkan terlebih dahulu, baru kemudian
diikuti dengan teks hasil terjemahan, ada dua model sebagai berikut.
1.
Teks asli
ditampilkan di sebelah kiri, kemudian teks terjemahan ditampilkan di sebelah
kanan.
2.
Teks asli
ditampilkan di atas, kemudian teks terjemahan di bawahnya.
Dalam
penelitian ini, peneliti menggunakan model penerjemahan nomor dua, yaitu teks asli dalam Bahasa Jawa ditampilkan di atas, kemudian teks terjemahan berupa
Bahasa Indonesia berada di bawah teks asli. Peneliti
memilih model ini karena model penerjemahan
tersebut lebih mudah dipahami dan lebih sederhana (simple).
G. Teknik
Analisis Data
Adapun prosedur
analisis data dalam penelitian ini adalah (1) menata data mengenai tradisi Larung Sesaji di Desa
Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang. Penataan ini
didasarkan atas pembacaan terhadap tradisi
Larung Sesaji yang sudah
dialihkan ke wacana tulis. Selanjutnya dilakukan pemilahan, pengelompokkan, dan
pengkodean data
sesuai tujuan dan keperluan penelitian. (2) data yang telah dikelompokkan
segera dianalisis. Teknik analisis data tentang sosiologis-historis tradisi Larung Sesaji dan analisis fungsi menurut William R. Bascom. Data yang diperoleh harus dipadukan
dengan pendapat informan yang mampu memberikan penjelasan representatif tentang
tradisi Larung Sesaji di Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo
Kabupaten Malang. (3) Analisis data yang terakhir adalah
membuat simpulan sosiologis-historis dan analisis fungsi menurut William
R. Bascom mengenai tradisi Larung Sesaji di Pantai Ngliyep Desa
Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang.
H. Teknik
Pemeriksaan Keabsahan Data
Untuk memeriksa
keabsahan data, ada tiga cara seperti yang disarankan Sudikan (2001: 169) yaitu: (1)
melakukan triangulasi, (2) melakukan peer debriefing, dan (3) melakukan member check dan audit trial.
Pada langkah
ini, peneliti menggunakan teknik triangulasi.
Triangulasi pengumpulan
data dan triangulasi teori. Triangulasi pengumpulan data digunakan
untuk mencari data dengan menggunakan teknik observasi, perekaman, pencatatan,
dan wawancara. Triangulasi teori,
dilakukan dengan cara mengkaji sosiologis-historis dan analisis fungsi menurut
William R. Bascom, sehingga dalam penelitian ini tidak digunakan teori yang
tunggal tetapi dengan teori yang jamak. Peneliti juga
melakukan diskusi dengan dosen pembimbing.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pembahasan
hasil penelitian Tradisi Larung Sesaji di
Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang (Kajian Fungsi William R. Bascom dan Sosiologis-Historis) mengacu
pada rumusan masalah dan tujuan penelitian yang meliputi latar belakang
munculnya Tradisi Larung Sesaji di
Pantai Ngliyep Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang, mengkaji
latar belakang munculnya Tradisi Larung
Sesaji dengan menggunakan sosiologis-historis dan teori fungsi William R.
Bascom.
A. Latar Belakang Munculnya Tradisi Larung Sesaji di Pantai Ngliyep Desa
Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang
Perilaku
religi yang diwujudkan dalam upacara didorong oleh emosi keagamaan. Dengan
demikian getaran jiwa karena satu atau beberapa alasan dari kesadaran manusia
akan adanya makhluk halus dari jiwa orang-orang mati (Samin dalam Nurwoko,
2010).
Larung Sesaji
dilaksanakan di Pantai Ngliyep Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten
Malang karena ada faktor pendorong yang berkaitan dengan adanya “pagebluk” yang menimpa warga Desa
Kedungsalam. “Pagebluk” merupakan
suatu wabah penyakit yang pada tahun 1913 melanda warga Desa Kedungsalam. Larung Sesaji pada tanggal 13 malam 14
di bulan Maulud diadakan untuk memperoleh keselamatan dan terhindar dari “pagebluk”. Kalau Larung Sesaji ini dilaksanakan pada bulan Maulud, hal ini merupakan
gejala baru yang secara kebetulan hanya bersamaan dengan hari kelahiran Nabi
Muhammad SAW dalam agama Islam. Untuk lebih jelasnya berikut adalah hasil dari
wawancara peneliti dengan salah satu kerabat labuh
yaitu Mbah Kasbun.
Kula niki namung nerusaken punopo
ingkang sampun dilampahi mbah buyut, nggih mbah Atun, mbah Di, lan Mbah Pangat.
Larung diwontenaken supados masyarakat Kedungsalam mriki tebih saking pagebluk
lan diparingi keslametan lahir lan batin. Pagebluk niku salah satunggaling
wabah penyakit.
Inggih jenenge tiang sepuh, dados
lurah Mbah Tholib kolo semanten ngraosaken wargane susah, ngggih nderek susah
amargi kenging pagebluk, isuk loro sore mati, sore loro isuk mati. Pokokipun
tiang mboten kiat lajeng mboten jelas sakitipun, ngertos-ngertos pejah. Mbah
Tholib pados dalan kangge ngindaraken kesusahan terus nyuwun petunjuk saking
Moho Kuwaos, lajeng angsal wisik supados nglaksanani larung sajen wonten
Ngliyep.
Mbah Tholib dipun rencangi
sederekipun mbah Atun sareng-sareng kalian warga desa mriki nglaksanani
perintah wisik niku nyuwun petunjuk Gusti Kanjeng Nyai Ratu Mas Roro Kidul
kalian larung sajen. Saksampunipun niku warga desa mriki saget tentrem. Larung
pertama niku tanggal telu-las malem pat-belas sasi Maulud tahun 1913 nalika
semanten lurahipun Mbah Tholib. Kuwi yo mung manut opo sing diperintahake soko
kono. Tanggal telu-las malem pat-belas sasi Maulud miturut Mbah rumiyin inggih
wanci ingkang sahe. Tanggal niku sampun ditetapaken saking riyine. Niku
pilihane Mbah Tholib, menawi saking wisike. Mboten wonten kaitanipun kalian
kelahiran Nabi Muhammad. Nggih naming ngepasi mawon wulanipun sami.
Artinya:
Saya ini hanya meneruskan apa yang telah dijalani pendahulu saya, Mbah Atun,
Mbah Di, dan Mbah Pangat. Larung Sesaji
diadakan agar masyarakat Desa Kedungsalam terhindar dari “pagebluk” dan diberi keselamatan lahir dan batin. “Pagebluk” itu salah satu wabah
penyakit.
Ya
namanya saja orang tua, sebagai Kepala Desa Mbah Tholib ketika itu merasakan
warganya dalam kesusahan sehingga ikut susah karena terkena “pagebluk”, pagi sakit sore meninggal,
sore sakit pagi meninggal. Pokoknya orang tidak kuat dan tidak begitu jelas
bentuk sakitnya, mendadak meninggal. Mbah Tholib mencari jalan untuk
menghindarkan kesusahan itu dengan meminta petunjuk pada Tuhan, lalu dapatlah wisik (bisikan atau ilham) agar
melakukan Larung Sesaji di Ngliyep.
Mbah
Tholib dan saudaranya yang bernama Mbah Atun bersama-sama dengan warga desa di
sini menjalankan perintah wisik
(bisikan atau ilham) itu untuk memohon petunjuk atau pertolongan Kanjeng Nyai
Ratu Mas Roro Kidul dengan Larung Sesaji.
Setelah itu warga desa di sini dapat hidup tentram. Larung Sesaji pertama kali dilaksanakan pada tanggal 13 malam 14
bulan Maulud tahun 1913 saat kepala desa (pertama) Mbah Tholib. Itu hanya apa
yang diperintahkan dari “sana”. Tanggal 13 malam 14 bulan Maulud menurut Mbah
dahulu adalah waktu yang baik. Tidak ada hubungannya dengan kelahiran Nabi
Muhammad. Ya hanya secara kebetulan saja waktunya sama. Tanggal itu sudah
ditetapkan dari dulunya. Itu pilihan Mbah Tholib, mungkin dari wisiknya (bisikan atau ilham).
Jadi,
Larung Sesaji lahir karena suatu
keadaan berbahaya dengan munculnya suatu penyakit yang menyerang warga desa
Kedungsalam pada tahun 1913. Masyarakat Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo
Kabupaten Malang dengan keterbatasan akalnya mencoba memohon bantuan pada
kekuatan supranatural yaitu Kanjeng
Nyai Ratu Mas Roro Kidul dan mendapatkan jalan keluar melalui datangnya wisik (bisikan atau ilham) yang
disampaikan melalui Mbah Tholib (kepala Desa Kedungsalam pertama) dengan
ditemani Mbah Atun dan masyarakat Desa Kedungsalam dilakukanlah Larung Sesaji itu. Dengan demikian, pelaksanaan
Larung Sesaji pada tanggal 13 malam
14 bulan Maulud merupakan pilihan dari sana
(wisik yang diterima Mbah Tholib), serta tidak ada kaitannya dengan kelahiran
Nabi Muhammad. Hanya kebetulan saja bulannya sama, yaitu bulan Maulud.
B. Kemunculan Teori Sosiologis-Historis
dalam Tradisi ”Larung Sesaji” di Desa
Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang
Dengan
adanya tradisi yang terdapat di setiap wilayah, tentunya mempunyai latar
belakang sejarah. Ketika suatu tradisi memiliki latar belakang, secara tidak
langsung keberadaan masyarakat yang ada di sekitarnya berpengaruh pada
terciptanya tradisi tersebut. Tradisi “larung
sesaji”, tepatnya yang ada di Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo
Kabupaten Malang memiliki latar belakang sejarah yang berkaitan erat dengan
keadaan sosial masyarakat di sekitarnya.
Tepatnya
tanggal 13 malam 14 bulan Maulud, lahirlah suatu tradisi Jawa kejawen yang berada
di Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang. Tidak ada tradisi
yang muncul tanpa latar belakang, alih-alih tradisi “larung sesaji” juga mempunyai histori atau sejarah. Alkisah, di
Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang timbulnya wabah penyakit
yang disebut “pagebluk” menyebabkan
warga curiga akibat kematian yang secara tiba-tiba menyerang masyarakat
sekitar. Akhirnya Mbah Tholib dan Mbah Atun mencari cara agar warga masyarakat
Desa Kedungalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang. Dapatlah sebuah wangsit dari Sang Hyang Widhi, sebuah
terobosan yang ampuh sebagai cara untuk menghilangkan penyakit “pangebluk” tersebut. Memang sedikit
aneh, ketika ada suatu bisikan agar penyakit itu hilang. Sampai saat ini masih
berkembang dalam lingkungan masyarakat sekitar.
“Larung Sesaji” menjadi salah satu cara
untuk mengatasi penyakit tersebut. Berawal dari tahun 1913, para tokoh
masyarakat meminta bantuan dari tenaga supranatural,
yaitu Nyai Ratu Mas Roro Kidul. Dengan adanya bantuan tersebut, akhirnya Nyai
Ratu Mas Roro Kidul meminta syarat tertentu dalam penyembuhan penyakit yang ada
di Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang. Masyarakat sekitar
pun akhirnya menyanggupi syarat-syarat yang diutarakan oleh Nyai Ratu Mas Roro
Kidul. Sehingga, sampai sekarang pun dapat menjadikan tradisi berupa “larung sesaji”. Diawali dengan upacara
tertentu dari para sesepuh, dilanjutkan dengan adanya penghanyutan sesaji,
selain itu juga terdapat pertunjukan-pertunjukkan tertentu dari masyarakat.
Jadi,
dapat disimpulkan bahwa tradisi “larung
sesaji” yang menjadi kebiasaan masyarakat setiap bertepatan dengan bulan
Maulud mempunyai dampak yang luar biasa dari masyarakat di Desa Kedungsalam
Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang. Terhindarnya penyakit “pagebluk” menjadi salah satu contoh
bahwa dengan adanya tradisi “larung
sesaji”, masyarakat sekitar terhindar dari penyakit tersebut. Sebagai salah
satu kebiasaan yang diadakan setiap tahunnya, masyarakat juga tidak merasa
keberatan ketika mereka harus mengumpulkan syarat-syarat yang harus ada dalam
penghanyutan sesaji tersebut ke laut.
Apresiasi masyarakat Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang
begitu antusias ketika acara tersebut berlangsung. Hal itu diakibatkan karena
dahulunya, tanpa adanya acara tersebut, masyarakat sangat menderita. Namun,
sekarang masyarakat sudah terbiasa dengan hal-hal tersebut. Walaupun berbau
mitos, masyarakat tetap memandang tradisi “larung
sesaji “sebagai sebuah anugerah yang luar biasa tercurah kepada masyarakat
di Desa Kedungsalam Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang.
DAFTAR RUJUKAN
Endraswara, Suwardi. 2004. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta:
Pustaka Widyatama.
Hyandini, Hardinna. 2011. Tradisi Lisan Etnik Mina. [online].
Tersedia: Hardinna Hyandini.blogspot.com/2011/04/Tradisi-Lisan.etnik-muna.html.Diakses
pada 24 November 2013.
Irawan, Septian. 2011. Penelitian Sastra Lisan. [online].
Tersedia: Septian Irawan.blogspot.com/2011/09/Penelitian-sastra-lisan.html.Diakses
pada 24 November 2013.
Kurniawan, Dwi. 2012. Penelitian Kualitatif Tradisi Lisan dan
Sastra Lisan. [online]. Tersedia: dwikurniawan.blogspot.com/2012/08/Penelitian-kualitatif-tradisi-lisan-dan-sastra-lisan.html.
Diakses pada 24 November 2013.
Martin, Risnowati dan Irmayanti
Meliono. 2012. Tradisi Lisan.
[online]. Tersedia: Icssis.Files.Worldpress.com/2012/05/18190/2011_27.pdf.
Diakses pada 24 November 2013.
Sudikan, Setya Yuwana.
2001. Metode Penelitian Sastra Lisan.
Surabaya: Citra Wacana.